Yance Zadrak Rumahuru Sah Jadi Guru Besar IAKN Ambon

  • Bagikan
Yance Zadrak Rumahuru dikukuhan sebagai guru besar IAKN Ambon. (Foto: Dade/ameks)

AMBON, AT.- Yance Zadrak Rumahuru akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang ilmu agama dan lintas budaya, IAKN Ambon. Dia, Rektor Institut Agaman Kristen Negeri (IAKN) Ambon.

Pengukuhan Prof. Dr. Yance Zadrak Rumahuru, S. Si, MA ini dilaksanakan di ruang auditorium kampus setempat pada Senin (3/10). Dalam sidang senat terbuka itu, akta pengukuhannya dibacakan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) Prof. Dr. Nizar Ali, M.Ag.

Nomor 022579/BII/3/2022 tentang kenaikan jabatan akademik fungsional dosen. Sebelumnya, Prof. Dr. Yance Zadrak Rumahuru, S.Si, MA ditetapkan sebagai guru besar bidang Agama dan Lintas Budaya oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas bersama 16 guru besar lainnya.

Proses pengukuhan kepada orang nomor satu di kampus IAKN itu dilakukan oleh Sekjen Kementerian Agama RI, Prof Dr. Nizar Ali, M.Ag dengan mengalungkan medali kehormatan di depan sidang senat terbuka pada kampus Harmoni dalam keberagaman.

Dalam sambutan singkatnya, Sekretaris Jendral Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Nizar Ali, M. Ag mengucapkan selamat serta memberikan apresiasi kepada rektor IAKN itu atas kenaikan jabatan akademik sebagai guru besar dalam bidang ilmu agama dan Lintas Budaya yang diterimanya.

“ Jabatan guru besar adalah jabatan yang bergengsi dan bermartabat. Karena apa? Karena ucapan dari seorang guru besar adalah ilmu atau teori. Sedangkan prilakunya adalah teladan. Dan IAKN harus berbangga diri, memiliki pimpinan yang mempunyai jabatan tertinggi pada bidang akademik,” kata Nizar dalam sambutannya, Senin (3/10).

Dia membeberkan, dewasa ini perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKN), sudah memperoleh kepercayaan yang tinggi dari masyarakat sebagai perguruan tinggi pilihan utama.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan jumlah peminat yang setiap tahunnya sangat tinggi. Sehingga terjadi peningkatan jumlah mahasiswa pada PTKN yang hamper menyentuh angka satu juta mahasiswa.

Olehnya itu, kata dia, dibutuhkan kepimpinan perguruan tinggi yang adaptif dan responsif dengan berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan tinggi saat ini.

“ Kepercayaan masyarakat tentu menjadi amanah yang harus kita tunaikan dengan menghadirkan pelayanan pendidikan yang bermutu, dan relevan atas perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat, “ singkatnya.

Dalam kesempatan yang sama Guru besar yang juga Rektor IAKN) Ambon, Prof. Dr. Yance Zadrak Rumahuru, S. Si, MA mengatakan, perguruan tinggi yang dipimpinnya itu dari tahun ke tahun selalu mengalami perkembangan.

Hal tersebut dikarenakan IAKN merupakan lembaga pendidikan yang mengalami metamorfosis dari Sekolah Pendidikan Guru Agama Kristen (PGAK), Akademi Pendidikan Tenaga Kependidikan (APTK), Akademi Pendidikan Guru Agama Kristen Protestan Negeri (APGAKPN) dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Ambon.

Menurut Rektor, lembaga pendidikan dibawa kepemimpinannya sudah ada sejak tahun 1960-an dan hingga saat ini kampus yang berada di Halong Atas, telah banyak memproduksi guru agama, guru musik, guru bimbingan konseling, tenaga pastoral, pendeta atau gembala jemaat, peneliti, dosen, dan berbagai profesi lainnya yang mengabdi untuk mencerdaskan generasi bangsa.

“ Tidak sedikit sumber daya manusia telah dihasilkan sebagai tenaga pembangunan bangsa di negeri ini. Dalam setiap tahapan perkembangannya, IAKN Ambon selalu merespon masalah pembangunan masyarakat dengan pendekatan yang inter dan multi disiplin, “ jelas Prof Rumahuru.

Pihaknya menambahkan, meskipun kadang kurang disadari oleh masyarakat secara luas, namun IAKN memiliki kekhasan agama dan budaya yang kuat.

Dengan demikian, untuk merespon konteks pembangunan masyarakat Maluku pasca konflik social sejak tahun 2000-an hingga saat ini, banyak riset dosen maupun mahasiswa yang dapat dijadikan referensi untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni maupun penyusunan kebijakan.

Selain itu, di tahun 2007 pemerintah dan masyarakat giat mengupayakan rekonsiliasi dan pembangunan perdamaian pasca konflik Maluku. STIKOM Ambon dan IAKN Ambon saat ini tengah menawarkan pemikirannya berupa rumusan teologi integralistik sebagai salah satu cara berteologi di tengah masyarakat majemuk yang sedang berkonflik.

“ Gagasan utama Teologi Integralistik yang dikemukakan, bukanlah penyatuan atau penyemarataan ajaran, tetapi gagasan tentang penerimaan dan penghargaan terhadap realitas kemajemukan. Gagasan ini pun, sekaligus memberi penegasan terhadap eksistensi masyarakat pulau-pulau yang beragam, tetapi terbuka dan tahu mengelolanya menjadi kekuatan anak negeri yang luhur, “ pungkasnya. (LMS)

  • Bagikan

Exit mobile version